Minggu, 08 Januari 2017

Tugas Praktek Menulis


Dampak Telolet
   Sejak boomingnya ‘Om Telolet Om’ di medsos (media sosial), banyak kalangan masyarakat yang mengikuti tren itu, mulai dari yang masih anak-anak, remaja, dewasa, bahkan ada yang membentuk sebuah komunitas tentang telolet ini. Itulah yang membuat Didin mengikuti tren ‘Om Telolet Om’ karena ia selau aktif melihat medsos. Si Didin juga salah satu anak yang paling hits di sekolahnya. Walaupun begitu, ia mempunyai teman akrab sejak SMP, namamya Andri yang selalu nongkrong bersama Didin dan selalu mendengarkan curhatan dari si Didin. Dia juga tidak terlalu jauh dengan rumah Didin. Si Didin tinggal di sebuah rumah yang lumayan mewah untuk sebuah ukuran di desanya bersama orang tuanya, ibunya bernama Jana dan ayahnya bernama Slamet. Dia juga mempunyai adik, namanya Asri. Walaupun orang kaya, keluarganya hidup dengan sederhana dan akrab dengan tetangganya. 

   Siang itu, Didin hendak menuju tempat nongkrongnya setelah dari pulang sekolahnya. Seperti biasanya ia selalu nongkrong dengan Andri ditempat itu. Setelah sampai disana, Didin bertemu dengan Rudi dan langsung  asyik ngobrol tentang boomingnya ‘Om Telolet Om’ di medsos.“Dri, wes denger telolet durung?” ujar Didin. “ Uweslah.. emangnya napa? Meh golek telolet po?” sambung Andri.“Nek gelem sesok golek telolet yuk..,” sambung Didin sambil makan gorengan.“ Ayo Din, meh jam piro?” jawab Andri. “ Nek Iso jam 7 pagi, Dri..,” jawab Didin.“Okee siap..,” saut Andri dengan tegas.

    Lalu mereka pesan beberapa makanan dan minuman dan melanjutkan obrolannya lagi.“Din piye? Wes dapet durung?” tanya Andri sambil menahan rasa penasaran. “lah, siapa toh?” sambung Didin sambil memikirkan sesuatu.“Itu lho.., yg kamu omongin ke aku kemarin lho..,” ujar Andri.“Hahaha, durung lha.., nanti iseh usaha meneh Dri..,” saut Didin sambil tertawa.“Semoga dapet yo..,” sambung Andri sambil tersenyum.“okee, ning sesok jadi lho..,” sambung si Didin.“oke, beneran jadi yo..,” sambung Andri. Kemudian, mereka langsung pulang kerumah masing-masing.

   Keesokan harinya, Andri datang ke rumah Didin.“Assalammualaikum, Didin..,” saut Andri sambil mengetuk pintu. Tak lama pintupun terbuka.“Waalaikumsalam, Ohh ada kak Andri, mau nyari kakak ya..,” ujar Asri.“Ia dek, ada kak Didin gak?” tanya Andri.“Bentar kak Andri, tak panggil dulu..,” jawab Asri. Dia pun langsung menuju ke kamar Didin.“Kak ada temen kakak..,” teriak Asri.“Ya bentar dek..,”  ujar Didin sambil menyisir rambutnya. Setelah itu, Didin mengambil helm dan bergegas ke pintu depan.“Ehh, ini jadi toh Din?” ujar Andri.“Jadi lah, dek nanti bilang sama ibu kalau kakak mau main dulu dan nyari telolet sama temen kakak ya..,” jawab Didin sambil mengenakan helm.“Okee kak.., nanti titip makanan ya..,” ujar Asri.“Iyaa nanti tak beliin..,” jawab Didin sambil menutup pintu. Kemudian, mereka berangkat dengan Didin nebeng Andri.

   Tak lama kemudian, ibunyapun mencari Andri.“Sri.., Didin mana?” tanya ibu Janah.“Kak Didin tadi pergi bersama temennya. Katanya sihh.. mau nyari telolet Bu..,” jawab Asri.“Oalah Sri, telolet ki panganan opo?” tanya ibu Janah.“Hahaha, telolet itu klakson bis yang lagi booming Bu..,” jawab Asri dengan tersenyum.“Lhaa, mending maca shalawat po ngaji ning masjid..,” ujar ibu Janah.Sementara itu, Didin, Andri, serta teman lainya sedang asyik berteriak ‘Om Telolet Om’ jika ada bis yang lewat.“Om telolet om..,” teriak si Didin.

   Mereka begitu bahagia dalam aksi itu. Mereka yang semakin terlarut dalam keasyikan itu hingga lama-kelamaan satu-persatu teman mereka yang ikut aksi itu mulai pulang karena waktu sudah sore. Andi yang tampak kelelahan membujuk Didin supaya pulang ke rumah.“Din ayoo bali, selak waktune meh mahgrib ki..,” ujar Andri.“Bentar to, iki gek seru-serune Dri..,” saut Didin sambil memegang kertas yang bertulis ‘Om Telolet Om’.“Lha, kan iso dilanjutke sesok toh Din? Sesok iseh prei sekolah..,” ujar Andri dengan rasa cemas.“Bentar toh, iki  iseh seru-serune lho... Mungkin sesok ra bakal seru maneh..,” jawab Didin.

   Di saat mereka sedang berdebat, ada beberapa polisi yang sedang menertibkan para remaja yang ikut fenomena telolet dengan mobil patrolinya sdang menuju ke arah mereka. Mereka terkejut dengan melihat itu, mereka langsung naik motor dan tancap gas langsung menuju kerumah Didin. Mereka yang mulai begitu panik, melaju motornya dengan kecepatan tinggi dan tidak memperhatikan kendaraan lain. Namun sial bagi mereka, motor mereka menabrak mobil didepannya dan mereka langsung terjatuh.

   Para pengendara dan orang sekitar yang melihat insiden itu, langsung menolong mereka dan meminggirkan mereka ke pinggir jalan. Kerusakan motor Andri dan mobil tersebut tidak terlalu parah. Lalu, pengemudi mobil itu juga turun dan menghampiri mereka.“Lha, kalian ki napa toh? Kok sampai nabrak mobil saya..,” ujar si pengemudi itu.“Kami khilaf Pak, tadi kami terburu-buru serta panik Pak..,” ujar Didin sambil menahan rasa sakit di kakinya.“Tapi kalian gak papa toh?” tanya si pengemudi itu.“Gak papa Pak cuma sedikit luka aja Pak..,”  jawab Andri sambil menahan rasa sakit. 

   Setelah mereka menyelesaikan kejadian itu, mereka melanjutkan pulang kerumah Didin.Sesampai dirumah Didin, Andri langsung pamit dengan Didin.“Assalamualaikum, Bu..,” saut Didin sambil mengetuk pintu“Waalaikumsalam, Din.., lho kamu kemana saja dari tadi, ini kok tangannya ada luka?” ujar ibu Janah Sambil memegang tangan Didin.“Gak papa Bu, tadi jatuh dari sepeda motor..,” jwab Didin sambil menahan rasa sakit.“Lha, kok bisa? Makanya kalau pergi atau dolan yo inget waktu..,” ujar ibu Janah dengan rasa cemas.“Tadi naik motornya ngga hati-hati Bu, saya minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi Bu..,” jawab Didin dengan sedih dan menyesal.“Yowes, lain kali aja baleni maneh Din.., tapi wes shalat durung?” ujar ibu Janah.“Belum Bu..,” jawab Didin.“Yaudah shalat dulu sana, nanti Ibu obatin tanganmu Din..,” sambung ibu Janah sambil menutup pintu.“Ya Bu..,” jawab Didin dengan menundukkan kepala. Kemudian, Didin masuk ke kamarnya dan melanjutkan aktivitas kesehariannya.

1 komentar: