Dampak
Telolet
Sejak
boomingnya ‘Om Telolet Om’ di medsos
(media sosial), banyak kalangan masyarakat yang mengikuti tren itu, mulai dari
yang masih anak-anak, remaja, dewasa, bahkan ada yang membentuk sebuah
komunitas tentang telolet ini. Itulah yang membuat Didin mengikuti tren ‘Om
Telolet Om’ karena ia selau aktif melihat medsos. Si Didin juga salah satu anak
yang paling hits di sekolahnya.
Walaupun begitu, ia mempunyai teman akrab sejak SMP, namamya Andri yang selalu
nongkrong bersama Didin dan selalu mendengarkan curhatan dari si Didin. Dia
juga tidak terlalu jauh dengan rumah Didin. Si Didin tinggal di sebuah rumah
yang lumayan mewah untuk sebuah ukuran di desanya bersama orang tuanya, ibunya
bernama Jana dan ayahnya bernama Slamet. Dia juga mempunyai adik, namanya Asri.
Walaupun orang kaya, keluarganya hidup dengan sederhana dan akrab dengan
tetangganya.
Siang itu,
Didin hendak menuju tempat nongkrongnya setelah dari pulang sekolahnya. Seperti
biasanya ia selalu nongkrong dengan Andri ditempat itu. Setelah sampai disana,
Didin bertemu dengan Rudi dan langsung asyik ngobrol tentang boomingnya ‘Om Telolet Om’ di medsos.“Dri, wes denger telolet
durung?” ujar Didin. “ Uweslah.. emangnya napa? Meh golek telolet po?” sambung
Andri.“Nek gelem sesok golek telolet yuk..,” sambung Didin sambil makan
gorengan.“ Ayo Din, meh jam piro?” jawab Andri. “ Nek Iso jam 7 pagi, Dri..,” jawab
Didin.“Okee siap..,” saut Andri dengan tegas.
Lalu
mereka pesan beberapa makanan dan minuman dan melanjutkan obrolannya lagi.“Din
piye? Wes dapet durung?” tanya Andri sambil menahan rasa penasaran. “lah, siapa
toh?” sambung Didin sambil memikirkan sesuatu.“Itu lho.., yg kamu omongin ke
aku kemarin lho..,” ujar Andri.“Hahaha, durung lha.., nanti iseh usaha meneh Dri..,”
saut Didin sambil tertawa.“Semoga dapet yo..,” sambung Andri sambil tersenyum.“okee, ning sesok jadi lho..,” sambung si
Didin.“oke, beneran jadi yo..,” sambung Andri. Kemudian, mereka langsung pulang
kerumah masing-masing.
Keesokan harinya, Andri datang ke rumah Didin.“Assalammualaikum, Didin..,” saut Andri
sambil mengetuk pintu. Tak lama pintupun terbuka.“Waalaikumsalam, Ohh ada kak
Andri, mau nyari kakak ya..,” ujar Asri.“Ia dek, ada kak Didin gak?” tanya
Andri.“Bentar kak Andri, tak panggil
dulu..,” jawab Asri. Dia pun langsung menuju ke kamar Didin.“Kak ada temen
kakak..,” teriak Asri.“Ya bentar dek..,”
ujar Didin sambil menyisir rambutnya. Setelah itu, Didin mengambil helm
dan bergegas ke pintu depan.“Ehh, ini jadi toh Din?” ujar Andri.“Jadi lah, dek
nanti bilang sama ibu kalau kakak mau main dulu dan nyari telolet sama temen
kakak ya..,” jawab Didin sambil mengenakan helm.“Okee kak.., nanti titip
makanan ya..,” ujar Asri.“Iyaa nanti tak beliin..,” jawab Didin sambil menutup
pintu. Kemudian, mereka berangkat dengan Didin nebeng Andri.
Tak lama
kemudian, ibunyapun mencari Andri.“Sri.., Didin mana?” tanya ibu Janah.“Kak Didin tadi pergi bersama
temennya. Katanya sihh.. mau nyari telolet Bu..,” jawab Asri.“Oalah Sri,
telolet ki panganan opo?” tanya ibu Janah.“Hahaha, telolet itu klakson bis yang
lagi booming Bu..,” jawab Asri dengan
tersenyum.“Lhaa, mending maca shalawat po
ngaji ning masjid..,” ujar ibu Janah.Sementara itu, Didin, Andri, serta teman
lainya sedang asyik berteriak ‘Om Telolet
Om’ jika ada bis yang lewat.“Om telolet om..,” teriak si Didin.
Mereka
begitu bahagia dalam aksi itu. Mereka yang semakin terlarut dalam keasyikan itu
hingga lama-kelamaan satu-persatu teman mereka yang ikut aksi itu mulai pulang
karena waktu sudah sore. Andi yang tampak kelelahan membujuk Didin supaya pulang
ke rumah.“Din ayoo bali, selak waktune meh mahgrib ki..,” ujar Andri.“Bentar to,
iki gek seru-serune Dri..,” saut Didin sambil memegang kertas yang bertulis ‘Om
Telolet Om’.“Lha, kan iso dilanjutke sesok toh Din? Sesok iseh prei sekolah..,”
ujar Andri dengan rasa cemas.“Bentar toh, iki
iseh seru-serune lho... Mungkin sesok ra bakal seru maneh..,” jawab
Didin.
Di saat
mereka sedang berdebat, ada beberapa polisi yang sedang menertibkan para remaja
yang ikut fenomena telolet dengan mobil patrolinya sdang menuju ke arah mereka.
Mereka terkejut dengan melihat itu, mereka langsung naik motor dan tancap gas
langsung menuju kerumah Didin. Mereka yang mulai begitu panik, melaju motornya
dengan kecepatan tinggi dan tidak memperhatikan kendaraan lain. Namun sial bagi
mereka, motor mereka menabrak mobil didepannya dan mereka langsung terjatuh.
Para
pengendara dan orang sekitar yang melihat insiden itu, langsung menolong mereka
dan meminggirkan mereka ke pinggir jalan. Kerusakan motor Andri dan mobil
tersebut tidak terlalu parah. Lalu, pengemudi mobil itu juga turun dan menghampiri
mereka.“Lha, kalian ki napa toh? Kok sampai nabrak mobil saya..,” ujar si pengemudi
itu.“Kami khilaf Pak, tadi kami terburu-buru serta panik Pak..,” ujar Didin sambil
menahan rasa sakit di kakinya.“Tapi kalian gak papa toh?” tanya si pengemudi
itu.“Gak papa Pak cuma sedikit luka aja Pak..,”
jawab Andri sambil menahan rasa sakit.
Setelah
mereka menyelesaikan kejadian itu, mereka melanjutkan pulang kerumah Didin.Sesampai
dirumah Didin, Andri langsung pamit dengan Didin.“Assalamualaikum, Bu..,” saut Didin
sambil mengetuk pintu“Waalaikumsalam, Din.., lho kamu kemana saja dari tadi,
ini kok tangannya ada luka?” ujar ibu Janah Sambil memegang tangan Didin.“Gak
papa Bu, tadi jatuh dari sepeda motor..,” jwab Didin sambil menahan rasa sakit.“Lha,
kok bisa? Makanya kalau pergi atau dolan yo inget waktu..,” ujar ibu Janah
dengan rasa cemas.“Tadi naik motornya ngga hati-hati Bu, saya minta maaf dan
tidak akan mengulanginya lagi Bu..,” jawab Didin dengan sedih dan menyesal.“Yowes,
lain kali aja baleni maneh Din.., tapi wes shalat durung?” ujar ibu Janah.“Belum
Bu..,” jawab Didin.“Yaudah shalat dulu sana, nanti Ibu obatin tanganmu Din..,”
sambung ibu Janah sambil menutup pintu.“Ya Bu..,” jawab Didin dengan
menundukkan kepala. Kemudian, Didin masuk ke kamarnya dan melanjutkan aktivitas
kesehariannya.


